Pages

Kamis, 22 September 2011

Kriminalitas Remaja di Jakarta


Salah satu problem pokok yang dihadapi oleh kota besar, kota-kota lainnya tanpa menutup kemungkinan terjadi di pedesaan, dan khususnya kota jakarta adalah kriminalitas di kalangan remaja. Dalam berbagai acara liputan kriminal di televisi misalnya, hampir setiap hari selalu ada berita mengenai tindak kriminalitas di kalangan remaja. Hal ini cukup meresahkan, dan fenomena ini terus berkembang di masyarakat.
Sering ini dalam satu berita , dikatakan bahwa di wilayah Jakarta tidak ada hari tanpa tindak kekerasan dan kriminal yang dilakukan oleh remaja. Tentu saja tindakan kriminal yang dilakukan oleh remaja sangat bervariasi, mulai dari tawuran antarsekolah, perkelahian dalam sekolah, pencurian, hingga pemerkosaan. Tindak kriminalitas yang terjadi di kalangan remaja dianggap kian meresahkan publik. Mungkin bisa dikatakan bahwa tindak kriminalitas di kalangan remaja sudah tidak lagi terkendali, dan dalam beberapa aspek sudah terorganisir. Hal ini bahkan diperparah dengan tidak mampunya institusi sekolah dan kepolisian untuk mengurangi angka kriminalitas di kalangan remaja tersebut.
Kenakalan remaja yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, dan dunia pada umumnya, dapat dikategorikan sebagai sebuah bentuk perilaku menyimpang di masyarakat. Tentu saja fenomena ini dapat dijelaskan dalam tataran ilmu sosial, hanya saja untuk mencari suatu teori yang relevan yang dapat menjelaskan dengan baik mengenai kenakalan remaja dibutuhkan kejelian tersendiri. Kenakalan remaja dapat diidentifikasikan sebaai bentuk penyimpangan yang terjadi di masyarakat, dan dengan identifikasi ini maka kenakalan remaja dapat dijelaskan dalam tataran ilmu-ilmu sosial.


Teori-Teori Terkait
Terdapat kesulitan untuk menjelaskan kenakalan remaja dari perspektif teoritis secara ketat, oleh karena itu saya lebih cenderung untuk melihat kenakalan remaja sebagai bentuk perilaku menyimpang (deviant behavior) di masyarakat. Jika melihat dari sisi penyimpangan (deviant), maka setidaknya terdapat tiga teori utama yang dapat menjelaskan fenomena ini yaitu: struktural fungsional terutama anomie dari Durkheim dan Merton, interaksi simbolik terutama asosiasi diferensiasi dari Sutherland, dan power-conflict terutama dari Young dan Foucault.

(a) Struktural Fungsional
Struktural fungsional melihat penyimpangan terjadi pembentukan normal dan nilai-nilai yang dipaksakan oleh institusi dalam masyarakat. Penyimpangan dalam hal ini tidak lah terjadi secara alamiah namun terjadi ketika pemaksaan atas seperangkat aturan main tidak sepenuhnya diterima oleh orang atau sekelompok orang, dengan demikian penyimpangan secara sederhana dapat dikatakan sebagai ketidaknormalan secara aturan, nilai, atau hukum. Salah satu teori utama yang dapat menjelaskan mengenai penyimpangan ini adalah teori anomie dari Durkheim dan dari Merton.
Durkheim secara tegas mencoba meyakinkan bahwa terdapat hubungan terbalik antara integrasi sosial dan penaturan sosial dengan angka bunuh diri. Sekurangnya terdapat dua dimensi dari ikatan sosial (social bond), yakni integrasi sosial dan aturan sosial (social regulation) yang masing-masing independen, atau dalam istilah lain, besaran integrasi tidak menentukan besaran pengaturan, demikian pula sebaliknya, namun keduanya mempengaruhi ikatan sosial. Integrasi sosial dapat diterjemahkan sebagai keikutsertaan seseorang dalam kelompok dan institusi di mana aturan sosial merupakan pengikat kesetiaan terhadap norma dan nilai-nilai dalam masyarakat. Mereka yang sangat terintegrasi masuk dalam kategori ‘altruism’, dan yang sangat tidak terinterasi dalam kategori ‘egoism’. Demikian pula mereka yang sangat taat aturan masuk dalam kategori ‘fatalism’ dan mereka yang sangat tidak taat masuk dalam kategori ‘anomie’ (wikipedia t.t.b).
Teori anomie dari Durkheim dikembangkan oleh Merton sebagai bentuk alienasi diri dari masyarakat di mana diri tersebut membenturkan diri dengan norma-norma dan kepentingan yang ada di masyarakat. Dalam menjelaskan hal ini, Merton memfokuskan pada dua variabel, yakni tujuan (goals) dan ‘legitimate means’ (saya secara sengaja tidak menterjemahkan kata ini karena tidak menemukan pengertian yang tepat) ketimbang integrasi sosial dan pengaturan sosial. Dua dimensi ini menentukan derajat adaptasi masyarakat sesuai dengan tujuan-tujuan kultural (apa yang diinginkan oleh masyarakat mengenai kehidupan ideal) dan cara-cara yang dapat diterima di mana seorang individual dapat menuju tujuan-tujuan kultural. Merton sendiri membagi derajat adaptasi dengan lima kombinasi, yakni ‘conformity’, ‘innovation’, ‘ritualism’, ‘retreatism’, dan ‘rebellion’.

Ledakan Penduduk di Indonesia


Indonesia,khususnya Jakarta,memiliki sebuah masalah yang tampaknya sulit di pecahkan oleh pemerintah,ialah kepadatan penduduk. Ini bukanlah permasalahan baru di negeri ini dan sampai saat ini belum sepenuhnya masalah ini terselesaikan. Menurut data dari Wikipedia.org, Indonesia menduduki peringkat ke-4 di dunia dengan jumlah penduduk 238.452.952 jiwa,apakah kita mesti bangga dengan itu ?,mari simak penjabaran di bawah ini.


Indonesia memiliki 17.504 pulau besar dan kecil, sekitar 6.000 di antaranya tidak berpenghuni, dengan luas daratan sekitar 1.922.570 km², dan populasi terbesar berada di Jakarta sebanyak 8.839.247 jiwa, bila dibandingkan dengan populasi di kota-kota lain yang hanya sekitar 1-2 juta jiwa. Angka-angka itu bukan hanya datang dari proses kelahiran saja tetapi juga datangnya orang-orang dari desaj menuju ibu kota Jakarta.
Kepadatan penduduk yg berlebihan atau The Population Bomb (Ledakan Penduduk) bukan hal yg bisa di banggakan di mata dunia, karena ini adalah sebuah masalah,kenapa di sebut masalah ? karena ada banyak permasalahan yg timbul jika suatu negara memiliki penduduk yang berlebihan. Coba kita urutkan masalah-masalah apa saja yang akan ditimbulkan :
  1. Kepadatan penduduk
  2. Menyempitnya lahan pekerjaan
  3. Kemiskinan
  4. Merendahnya tingkat pendidikan dan kesehatan
Dengan jumlah penduduk di Indonesia yg terlampau banyak,tidak sebanding dengan jumlah pekerjaan yang ada, ini berarti semakin kecil peluang seseorang untuk bisa mendapatkan penghasilan, bagi mereka yg tidak mempunyai pekerjaan tentu saja harus rela hidup miskin, dan yang selanjutnya terjadi adalah mereka tidak mampu mengobati anggota keluarganya yg jatuh sakit apalagi menyekolahkan anak-anak.
Pemerintah juga sudah mencanangkan beberapa kebijaksanaan untuk “mengurangi” dampak dari ledakan penduduk ini contohnya :